Serampai-Rasa

“Kadangkala kita rela ingin mempertaruhkan nyawa hanya dengan satu kesalahan, namun yang dilupanya dari diri kita, bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa khilaf dan salah”. -Blkhet

Bacalah tulisan ini sembari mendengarkan lirik musik dari yiruma (River Flows in you).

Sudah seharusnya kita berbangga terhadap diri sendiri, siapapun itu, untuk mereka dan kita semua yang telah bertahan sampai detik ini, yang telah mati-matian menahan setiap perih, itu harus dibanggakan. Bahwa semuanya memiliki hikmah yang tak terlihat adanya.

” Dan tidaklah tuhan menguji setiap hamba diluar dari batas kesanggupan-Nya “[QS : Al-Baqarah]. Mungkin itulah korelasi tentang kondisi setiap manusia hari ini. Siapapun itu bahwa segala keterberatan yang dirasakan tidak lain hanyalah merupakan proses menuju ketaatan terhadapnya, percayalah.

Kesepian barangkali adalah sesuatu yang hampir tiap saat kita rasakan, sekalipun kita berada ditengah-tengah keramaian, tapi pada prinsipnya hal itu tak ubahnya menjadi sebuah apa-apa. Bagiku, kesepian pada dasarnya merupakan panggilan untuk mengenal diri kita sendiri. Terkesan cukup filosofis dan sedikit teologis, namun akan aku jelaskan. Pada hakikatnya situasi sepi didalam diri adalah sebuah indikasi atau panggilan untuk menyelami diri kita yang sebenarnya. Aku sangat percaya bahwa kita semua pasti pernah bertanya tentang diri kita sendiri. Jika itu belum kau rasakan, pasti akan tiba dalam beberapa waktu mendatang, namun yang pasti hal itu akan engkau rasa dan terjadi untuk dirimu.

Jika seorang filsuf belajar tentang alam semesta melalui perenungan yang amat panjang, hanya untuk membuktikan kebenaran tentang tuhan, dan jika seorang ilmuwan melakukan penelitian didalam laboratorium hanya untuk membuktikan kebenaran dari penelitiannya, maka kita sendiri yang bertepi dalam singgasana kesepian membuktikan bahwa kesepian adalah kekuatan untuk mengenali siapa anda, dan kita semua. Seorang filsuf telah mengenali dirinya, itulah kenapa iya mencoba untuk membuktikan kebenaran diluar daripada dirinya, begitupun dengan ilmuwan tadi, dia telah mengetahui siapa dirinya dan kepercayaannya. Dan sementara kita masih dalam tahap untuk mencoba menyapa nama yang ada dibalik raga.

Dengan demikian, bahwa bentuk kesepian seseorang itu berbeda-beda adanya, bukan kah seperti itu?. Mungkin ada yang sepi karena sedang putus cinta, mungkin juga ada yang sepi karena ditolak dalam hal pekerjaan, pun ada yang sepi karena memikirkan soal perkara rumah tangga, dan masih banyak lagi soal bentuk-bentuk kesepian itu. Namun kembali lagi, bahwa pucuk atau muara dari hadirnya rasa sepi adalah jawaban dari segala bentuk tindakan dan pilihan yang dijalani. Apakah itu membingungkan?. Tapi cobalah perlahan-lahan baca kembali paragraf diatas ini.

Terimakasih jikalau telah membaca kembali seusai dengan saran yang kuberi, tapi jikalau engkau tak tahu pula maka aku coba untuk menjelaskannya.

Setiap kegagalan selalu diikuti dengan bentuk penyesalan, apapun itu. Entah dalam hal romantisme, perkejaan dan bahkan perkara rumah tangga, dan yang pasti ketidaksesuaian yang diharapkan itu kerapkali mendatangkan rasa penyesalan. Penyesalan itulah yang mengantarkan kita pada rana kesepian, mencoba melihat kembali, mengenal kembali tentang siapa kita dan bagaimana kita harus berperilaku. Karena kadangkala kita banyak melakukan sesuatu diluar daripada yang bukan dari kita, apakah engkau pernah memutuskan sesuatu yang bukan dari keputusanmu sendiri? Nah itulah tindakan diluar dari diri kita.

Pasti kita semua tidak suka dengan kegagalan, apatalagi jika itu menyangkut tentang masa depan yang sangat penting. Namun bagaimanapun dari kegagalan yang bermuara ke kesepian itu, disanalah pula kita kembali menemukan secercah harapan, sekalipun itu sangat sulit paling tidak hal itu sangat tulus dan betul-betul mulia atas hadirnya. Kegagalan tidaklah serta merta mendekap kita selamanya, melainkan kegagalan menguji setiap kesalahan, kecerobohan dihari kamarin, namun yang pastinya bahwa kegagalan itu merupakan jawaban untuk sepi dan memikirkan kembali tentang diri kita sebelum memulainya.

Tulisan ini merupakan reaksi atas banyaknya fenomena-fenomena yang menyakitkan, kadangkala kita rela ingin mempertaruhkan nyawa hanya sekedar satu kesalahan, namun yang dilupanya dari diri kita, bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa khilaf dan berbuat salah, hidup ini penuh dengan banyak misteri, namun yang pasti kesepian itu adalah jawaban dari kegagalan-kegagalan kita semua.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai