SIRAT (Algoritma hidup vol. V)

“Tak ada kutukan dalam cinta, raihlan dalam bentuk terindah”

Setiap saat hujan datang silih berganti, bukan karena badai, tapi karena bumi ini kuat menahan segala amuk yang riuh perih. Melihat pada sudut yang lain, tapi bukan dengan satu kekurangan melainkan pada sesuatu yang tidak terlihat dan bernilai tinggi. Dalam banyak fenomena, manusia tumbuh, mati dan kembali terlahir, namun sebagai cinta dan ingatan yang membalutnya. Sama seperti banyak sejarah dan hikayat-hikayat para petuah yang kuat.

Untuk kali ini, beberapa pernyataan absurd menodai, sebagai seorang pria dan sebagai manusia kita hanya ingin damai berbahagia. Sejak kali pertama, dalam gelap gulita yang tiada ada suara, apapun dalam setiap anomali yang nampak, tembok pusari menopangnya dalam detik-detik yang penting. Dalam perjalanan dan menuju jalan penting lainnya, lalu semua kembali pada satu jenis kegilaan, iya yang bersuka ria dalam dunia kecil ragawi nampak terima dengan segala kesucian yang pernah ada dibalik tabir yang tiada, di dunia.

Prahara-prahara orang tau, nenek moyang dan purbakala dunia, daun tertiup keras dalam raksasa cinta yang rapuh pula, banyak keheningan, meramu sebagai penyesalan disela-sela hujan lebat namun tiada banjir, Mun dalam tembok tinggi iya rapuh dan menghabiskan dirinya, sebagai materi, iya dipenuhi cinta dari prahara orang-orang tua. Sukar untuk melihat semuanya, apatalagi iya larut menjadi kopi yang pahit adanya, tidak ada kutukan dalam cinta, raihlah dalam bentuk terindah.

Sastra, oleh blkhet

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai