
Kebaikan telah melimpah ruah, deru sungai mengalir tiada hentinya, dan akibatnya terciptalah temaram-temaram yang melata.
Sejenak aku mengembara dalam sosial media, lebih tepatnya itu adalah tempat untuk meluangkan waktu dalam hal mencari informasi terkini, memang subtansinya seperti itu, meskipun ada juga beberapa orang yang menjadikan platform sosial media sebagai pekerjaan. Namun tidak ada yang salah dalam hal itu, hanya saja sepertinya kita perlu melihat kembali tentang bagaimana zaman memandu kehidupan kita hari ini.
Modernisasi telah banyak merubah sesuatu, salah satunya adalah perilaku manusia hari ini, secara holistik manusia adalah intisari dari keberlangsungan hidup semua makhluk, manusia merupakan penentu kebajikan kemana alam dan kebudayaan manusia bergerak. Laksana sebuah kapal, setiap saatnya kita berlayar, menikmati panorama yang ada, dan kapten kapal-lah yang mengemudi kemana tujuan akhir kita berlabuh.
Dalam konteks kehidupan kita hari ini, ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa segala sesuatu yang ada itu diakibatkan oleh beberapa orang. Apa yang kita miliki, kenakan, dan makan itu adalah hasil dari beberapa orang, yaitu produksi untuk memberikan kebutuhan-kebutuhan kita sebagai manusia. Dalam istilah politiknya kita sebut sebagai oligarki, memang itulah hal yang ingin aku ungkapkan tentang bagaimana kehidupan saat ini ada dalam genggaman oligarki.
Hidupmu akan beruntung jika engkau salah satu dari oligarki itu, atau mungkin keluargamu, atau siapamu, tapi pada dasarnya engkau dalam kegemilangan dan tenggelam dalam binar-binar dunia. Semua orang menginginkan itu, tapi tidak dengan keberuntungannya.
Setelah kematian Karl Marx, maka perjuangannya atas Materialisme dialektikanya dilanjutkan oleh murid-murid setianya. Materialisme Marx telah banyak berubah, beberapa diantarnya adalah tujuan utama dari materialisme yang telah diredupsi olah muridnya sendiri. Adaptasi atas sesuatu itu memang perlu, namun konsekuensinya akan melebihi batas-batas dari analisis yang akan terjadi. Mungkin beberapa diantara anda yang membaca tulisan ini akan bertanya apa kaitan dengan materialisme Marx?. Materialisme Marx telah disalah pahami atas kehidupan kita hari ini, nilai-nilai yang diredupsi oleh muridnya Marx atas materialisme melahirkan paradigma yang keliru atas apa yang dinginkan Marx.
Kaitannya adalah, bahwa kita memandang segala sesuatu tergantung entitasnya, alhasil corak berpikir kita hari ini berdasar kepada materialisme semata, meskipun materialisme itu bukan lagi memiliki tujuan dan maksud sebenarnya sebagaimana dahulu marx menulisnya. “Misalnya si Fulan berjalan disebuah mall, si fulan dalam keadaannya memandangi apa yang dilihatnya, dan berkeinginan untuk memiliki semua apa yang membuatnya tertarik, akan tetapi dasar keinginan si fulan tidak dilandasi akan kebutuhannya, melainkan karena untuk eksistensi semata”.
Dalam praktik ekonomi politik kita menyebutnya sebagai perilaku konsumtif. Yah itulah kencenderungan kita semua hari ini, atas kemajuan teknologi hampir dipastikan bahwa perilaku manusia menjadi pragmatis. Tidak ada yang salah dalam hal mengonsumsi segala sesuatu, itu merupakan kehendak individu kita semua, namun yang ironis adalah ketika kita tidak menyandari bahwa kehidupan hari ini menuju ke suatu gembong, dimana kita hidup tak ubahnya seperti sebuah kawanan domba.
Anda mungkin tertawa, mana ada seperti itu, hidup-hidup saja, nikmati, zaman telah berubah dan kita harus beradaptasi. Zaman memang selalu berubah, iya bergerak dinamis, namun yang kurang ditahunya bahwa dinamis itu dicontroll oleh beberapa penguasa. Apakah anda pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang besar dan mengajak orang lain berkerja sama dengan anda tentang apa anda ingin lakukan? Misalnya berjualan, anda berjualan tentu memiliki target dan pencapaian, telah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang melakukan usaha satu karena ingin ungtung. Berbagai strategi mungkin anda lakukan untuk mencapai target itu dan keuntungan.
Selanjutnya setelah anda berhasil menjual seluruh barang usaha anda, tentu anda berpikir kembali bagaimana supaya melahirkan sesuatu yang baru lagi, menciptakan kondisi dimana anda membuat produk anda dicintai dan sangat disukai oleh semua orang. Satu-satunya yang anda pikirkan bagaimana anda bisa memproduksi sebanyak-banyaknya dan meraup keuntungan lebih banyak lagi, akibatnya segala cara dilakukan. Menciptakan situasi dimana anda mencoba untuk mempengaruhi semua orang.
Yah seperti itulah akhirnya, dan akan terus seperti itu. Tidak ada yang salah atas bagaimana manusia melakukan usaha sendiri, itu bentuk kemandirian dan kedisiplinan serta tekad yang dimilikinya. Akan tetapi sepertinya kita bukanlah orangnya, kita hanya berusaha dijebak dan pengaruhi secara terus-menerus untuk kepentingan koorporat oligarki.
Hidup sudah selayaknya dijalani, namun ikutkanlah juga akalmu, agar engkau tidak tersesat di jalanmu.
Opini oleh MA. 26 Desember 2023
Tinggalkan komentar