
Di antara rintihan yang tak berganti-ganti ini, kita masih kuat karena harapan, dengan segala doa yang dilangitkan, iya kini menjadi sebuah alasan, dalam bertahan dan mencoba menjalani diatas segala cobaan.
Namun ragaku. Ragaku terbalut dalam ketakutan-ketakutan, ke-khawatiran, laksana ateis yang tak percaya pada yang kuasa.
Baru kali ini aku memulai sebuah tulisan dengan sedikit kata indah, aku tak menyebutnya sebagai puisi, apalagi karya sastra, melainkan hanyalah sebuah ungkapan kelemahan dari tubuh yang biasa ini. Bercerita tentang segala apa yang terjadi, yang dijalani setiap saat dan harinya, memang terasa cukup berat untuk menceritakannya. Namun setiap orang punya cara penyelesaian masalah yang berbeda-singkatnya, bagiku masalah tidak akan pernah lepas dari diri manusia, iya ada dan sejalan dengan kehadiran manusia itu sendiri. Masalah tetap ada dalam bentuk dan kondisi apapun, namun kita manusia dapat menapikan sedikit penat diatas kesulitan-kesulitan itu.
Kadang-kadang aku bertanya pada diri sendiri, disaat-saat yang sunyi, bagiku menjadi waktu yang paling tepat untuk menyelami segala keresahan yang termaktub dalam jiwa sanubari. Apakah mungkin, apakah bisa, akankah iya, dan bisakah aku. Didalam ketidakpastian itu seisi nalar terbakar, terbakar dalam gelora amarah. Dalam kesadaran memanglah menyakitkan, jika kita menghayati itu, maka terlihatlah ada banyak tangisan yang kita rasa pada setiap jiwa. Aku benci mengeluh, aku benci ketidakmampuan, jiwa mudaku menggelora dalam batas-batas yang masih bisa.
Ah sial, ternyata menghabiskan beberapa batang rokok tidaklah juga menghilangkan segala resah yang menepi ini.
Jika tulisan ini terkesan cukup baik dan hidup, maka selanjutnya akan terbit dengan cerita yang cukup panjang.
Tinggalkan komentar