Bangsa yang di Etalase

Ada banyak penderitaan, tapi itu sengaja disembunyikan dan juga dipelihara keberadaannya

Apakah kita biasa melihat sesuatu yang indah dalam etalase? Biasanya iya memantik perhatian kita untuk melihatnya, kadang meniatkan jiwa untuk bagaimana bisa merasakannya, sampai berhasrat untuk memilikinya. Namun ini bukan tentang sebuah benda.

Begitu pahitnya kondisi seorang petani ditengah-tengah kemarau yang berkepanjangan, nelayan dengan segala keluhan dan jeritan ditengah naiknya BBM, dan buruh yang tidak memiliki kebebasan layaknya manusia tak merdeka, dan ibu rumah tangga yang meringkih harap datangnya pasok air bersih. Kondisi kita terbalik dengan etalase yang terpampang indah pada umumnya, mungkin saja indah tapi sayang dihinggapi tikus-tikus yang gagah itu.

Entah karna kenaifan semua pejabat, atau karena kebodohan yang mereka miliki. Bangsa kita tidak pernah kekurangan sumber daya, hanya kekurangan kepedulian menuju point’ pada sila kelima. Entah karna kepentingan pribadinya belum terpenuhi, atau karena kolega dan istri mudanya yang menuntut liburan sana-sini.

Kita melupakan kemanusiaan, sampai-sampai banyak kasus kriminalitas. Ketidakseimbangan hidup dalam bernegara akan menjadi kacau ketika pejabat hanya sibuk memperkaya diri dan adu statement untuk berebut kursi tinggi disebuah negeri. Kita rakyat kecil, ploretariat mana mampu menyaingi, kekontornya pun biasa kita rela diperkosa, diperiksa layaknya seorang reaksioner.

Kita dalam etalase, etalase penderitaan, kemiskinan, kesenjangan, dll. Pejabat tinggi Nagri mana tahu susahnya air bersih. Mereka hanya melihat foto kita tersenyum disosial media lalu dikatakan kita cukup puas atas kinerjanya. Kebahagiaan kita dimanipulasi, kadang dijadikan korban, apatalagi pemilu sebentar lagi akan bergulir.

Maka semua tiba-tiba akan peduli, aku percaya setiap orang memiliki hati nurani, namun orang besar memiliki anak cicit yang memakan banyak nurani mereka. Kita dalam proses etalase kehancuran, sebagai rakyat yang selalu jadi umpang untuk kesejahteraan orang-orang besar seperti pejabat.

Dan ironisnya, mereka membangun kekuasaan itu sendiri. Laksana seorang raja yang memberi pangeran-pangerannya seorang putri untuk diperkosa. Kita rakyat kecil mana mampu mendapat air bersih, hanya pertumpahan darah yang diberikan, saat-saat darurat seperti inipun semuanya masih sibuk memperkaya diri, atas nama negara dan kesejahteraan.

Aku percaya banyak orang yang bersimpati besar diatas ketidakadilan, namun kini ceritanya telah berbeda lagi. Tak ada lagi simbiosis mutualisme, yang ada hanyalah bagaimana mendapat meraup untung sebanyak-banyaknya (kapitalisme). Tapi kapitalisme tercukup masih dikatakan mulia karena memperkejakan, tapi pejabat merampas, merusak, dan mengeksploitasi segala yang ada.

Aku percaya semua petinggi negeri berbudi pekerti, tapi dengan cara yang salah, Meraka memberi, namun itu adalah hak kita sendiri, lalu mereka mengubahnya atas kepedulian untuk kita semua. Hidup ini dalam etalase yang penuh manipulatif, apapun itu semua harus berbau kekayaan. Ada banyak penderitaan, tapi itu sengaja disembunyikan dan juga dipelihara keberadaannya.

MA, Balang Lompo 19, Oktober 2023

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai