Anindia

ANINDIA

Pelupuk mata, hanyalah ufuk yang melerainya sebagai batas-batas ketidakmampuan.

Ketidakpastian, iya seringkali menyayat banyak peraduan, dalam kenaifan untuk keberedaan.

Hal yang sesak seringsaja indah, namun amuk diakhir sebagai pertaruhan yang bimbang-bimbang kegilaan.

Lembayung itu indah, juga cakrawala, namun iya mengikis rasa untuk tunduk pada kuasa.

Dan jauh jatuh diantara banyak-banyak suara, tapi semua berteriak, ku sedikit menghela nafas panjang.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai