ANINDIA
Pelupuk mata, hanyalah ufuk yang melerainya sebagai batas-batas ketidakmampuan.
Ketidakpastian, iya seringkali menyayat banyak peraduan, dalam kenaifan untuk keberedaan.
Hal yang sesak seringsaja indah, namun amuk diakhir sebagai pertaruhan yang bimbang-bimbang kegilaan.
Lembayung itu indah, juga cakrawala, namun iya mengikis rasa untuk tunduk pada kuasa.
Dan jauh jatuh diantara banyak-banyak suara, tapi semua berteriak, ku sedikit menghela nafas panjang.
Tinggalkan komentar