
Sejak proses kehidupan manusia telah terintegrasi dalam sebuah institusi besar (Negara), maka pada saat itu pula manusia secara harfiah telah memberikan kehendak kemerdekaan meraka terhadap penguasa (Pemerintah). Adalah Iktikad yang mulia dalam menyatukan spesies untuk membuat keselarasan serta kesetaraan dalam berkehidupan, konsep ideal dari proses integrasi demikian, bagaimana dapat mengorganisir hak-hak manusia yang terikat dalam sebuah komunitas besar (Negara).
Perwujudan daripada sebuah negara adalah kedamaian dan kesejahteraan itu sendiri yang di gumuli beberapa orang untuk melangsungkan hidup yang penuh harmonisasi. Maka di buatlah sistem serta perangkat-perangkat yang mengatur kelangsungan perdamaian dan kesejahteraan sesistematis mungkin agar negara yang di bentuk dapat mencapai cita-cita mulianya itu, akan tetapi dewasa ini eksistensi dari lembaga besar ini (Negara) ternyata memiliki juga keterbatasan dalam menjalankan wewenang serta kewajiban sebagai institusi besar (Negara) yang dapat memfasilitasi kepentingan rakyat.
Jika di renungkan, salah satu keterbatasan yang dimiliki negara ialah dengan bentuk kerja dengan negara lain (Diplomasi) atau hubungan-hubungan yang di buat negara oleh beberapa komunitas” dunia. Kita tak dapat menyangkal bahwa arus peradaban harus ini ada dalam control penguasa, tanpa disadari kita telah di perangkap dalam kepentingan-kepentingan para elit. Tapi kembali membicarakan persoalan keterbatasan negara di dalam bentuk kerja sama itu. Bagi saya diplomasi tak selamanya berujung positif bagi semua negara, tentu dalam hubungan diplomatik yang di bangun oleh semua negara tentunya ingin mendapatkan keuntungan masing-masing, na sementara di satu pihak tentu salah satu negara tidak ingin mendapatkan kerugian dari hubungan yang di bangun dalam proses diplomasi.
Ibarat kita sedang melakukan negosiasi, saling menawarkan kelebihan yang dapat menguntungkan semua pihak. Tapi pada realitanya dalam diplomasi itu kontras politik sangat-sangat menentukan. Nah bagi saya di dalam kepentingan-kepentingan yang berupaya di raih oleh negara saat melakukan diplomasi lalu kemudian tidak tercapai disitulah letak keterbatasan negara itu. Atau justru sebaliknya, adanya kesepakatan yang di jalin dengan negara lain sehingga membuat kondisi dalam sebuah negara menjadi seolah-olah vertikal untuk rakyat, bukan horizontal.
Akan tetapi itulah fenomena dewasa ini, koordinasi dengan pejabat-pejabat negara selalu vertikal, seolah-olah mereka hadir dan memerintah bukan dari rakyat. Kondisi kita sebagai rakyat selalu terjewentahkan di atas kebijakan yang mereka buat. Telah menjadi rahasia umum, bahwa seorang penguasa akan selalu berhasrat untuk tetap memiliki kuasa, sekalipun merugikan hal-hal yang menyangkut sekitarnya, tetapi dalam praktik memperoleh kekuasaan segala macam cara pun akan menjadi jalan untuk mempermudah bagaimana kekuasaan itu dapat di raih.
Memang terdengar kejam, tapi demikianlah realitanya. Rakyat kecil tak ubahnya seperti kalangan domba yang memiliki tuan. Dimana iya akan datang ketika lapar dan di lepaskan Ketika tuanya sedang sibuk mengerjakan tanggung jawabnya. Beberapa dari kita sebagai rakyat memang ada yang nampak peduli dan sangat nurani dalam melepaskan kita sebagai domba, tapi kelihatannya mereka hanya berupaya melepaskan kulit dombanya.
Di tengah-tengah krisis identitas sebagai Khalifah semakin terasa, pun pula teknologi pengetahuan merambah hasrat kebinatangan manusia di dalam berkehidupan. Negara hanya lah alat untuk kepentingan beberapa kepala saja, dan yang lainnya di paksa berkerja untuk beradaptasi dalam sistem dan kondisi yang mereka ciptakan. Hal ini akan terasa alami kerena di anggap sebagai bentuk kemajuan manusia, tapi tanpa disadari hukum yang di buat ini adalah jalan awal menuju kehancuran dalam berkehidupan.
Idealisme selalu di benturkan dengan kondisi realitas, dan memang idealisme di paksa tunduk dalam sebuah kondisi dimana layaknya kebenaran sepertinya tidak ada lagi. Banyaknya omong kosong yang senantiasa tampil di media merupakan propaganda-propaganda untuk meluluhlantahkan jiwa-jiwa kritis setiap manusia. Namun memang itulah yang di inginkan oleh tiap penguasa, bagaimana kita layaknya domba hanya di arahkan kekiri dan kekanan saja, kerna semua takut tanpa materi. Dan penguasa selalu memiliki itu, dan matilah nurani yang sebetul-betulnya nurani.
Opini, blkhet 22 juli 2023
Tinggalkan komentar