Selendang putih dan matahari

Tak sengaja aku melihatnya dari kejauhan, di ujung sana nampak sosok wanita, di lengkapi selendang putih indah di bawah pancaran matahari yang merona.

Iya berdiri tegap, seraya melempar butiran pasir laksana membuang bala untuk hari ini.

Dengan gaung kebaya yang di pakainya, menjelaskan dirinya yang begitu ayu mempesona.

Tak tahu banyak tentang apa yang di rasakannya, tentang bagaimana harinya, tentang bagaimana ia bertahan cukup lama, untuk dunia dan cinta.

Aku masih mengamatinya, dari kejauhan, di pelupuk sang surya terbenam, dengan puja-pujaan yang gila dan entah berapa lama wanita itu meyisakkan kesialan hidupnya hari ini.

Tak ada tutur sapa, namun aku takut dia merusak keindahan pada dirinya, di bawah pancaran matahari yang merona itu, dengan selendang putihnya yang begitu tebal tak lagi kusutnya.

Bersama-sama dengan gelap, iya masih setia dalam hempasan lara, ku tak tahu apa yang di deritanya.

Aku melihatnya, mengamatinya dalam bait-bait kata dengan sepenggal cahaya temaram, tak di ketahui bahwa aku memujanya.

Dengan kesamaran, dari kajauhan nampak aku yang gila dengannya, ku tak tahunya dari mana asalnya.

Iya menyibak intuisi ini, nada-nada bahagia, namun iya masih menikmati kesendirian di tepian sana, wanita dengan selendang putihnya.

Sastra, Blkhet Kamis 25 Mei 2023.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai