Dinar

Bukan kau yang utama, sebuah Dinar, engkau hanyalah bagian kecil dari sebuah tawa. Keindahan itu memang unik kau miliki, sebagai pemikat untuk kami, namun engkau bukanlah segalanya.

Dinar yang menjalar, kau merobohkan sebahagian hidup, di antara kami yang tertinggal dalam perampasan kebebasan.

Ruang demi ruang kau menyisiri segala bernyawa, beberapa di antaranya ia mati tak kenal kasian sebagai manusia.

Tonggak pratarnite hampir kau hanguskan, ia kini berkeping-keping dalam kegilaan yang kuasa, sang Dinar, kau patut untuk ku salahkan.

Kau kecil tapi kau kejam, kau mati tapi mematikan, kau diam tapi kau begitu bringas, yang lalu hingga sekarang kau Dinar adalah pucuk kegilaan.

~ Puisi

Blkhet, Makassar 28 Maret 2023

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai