Puasa dan Proletariat

Bagaimana saya dapat melupakan sebab disana terdapat banyak penderitaan.

• Puasa merupakan suatu kawajiban bagi umat beragama, dan hal ini menjadi bentuk ketakwaan seorang hamba kepada tuhan-nya, yakni dengan menahan lapar dan dahaga, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dan Secara universal beberapa agama di dunia memiliki konsep tersendiri mengenai puasa.

• Ploretariat adalah kelompok lapisan masyarakat yang memiliki starata sosial dalam berkehidupan paling rendah.

Tulisan ini tidak lain adalah sebuah upeti keresahan yang menggema dalam bilik nalar dan terlampiaskan secara bait-bait dalam tulisan. Bukan tesis, bukan pula doktrin, melainkan persepsi yang merangkak menjadi opini.

Seringkali kita mendengar sebuah asumsi, bahwa berpuasa adalah bagaimana kita dapat merasakan laparnya orang-orang miskin. Tatkala seorang manusia yang tidur di kolom jembatan meratapi nasib, ia mendengukan sebuah keadilan, disana mereka mempertaruhkan hidupnya.

Perlu disadari bahwa hadirnya orang-orang pinggiran bukan tanpa alasan, entahkah mereka mengemis, atau mencari barang rongsokan yang dapat di jadikan rupiah, apapun itu bahwa tujuannya hanya satu, yaitu bagaimana perut kecilnya dapat tertutupi oleh rasa kenyang. Hal ini sejalan dengan ungkapan oleh satu pemikir yang mengatakan bahwa “Negara  yang miskin, itu di akibatkan Oleh kinerja instansi-instansi pemerintah yang tidak melakukan profesionalisme dalam memberantas kemiskinan” [ J. Robinson, Mengapa Negara Gagal].

Bentuk kesenjangan sosial memang sangat-sangat terlihat sekali, dan kondisi ini mengindikasikan bahwa telah terjadi sesuatu yang memang kehadirannya sengaja untuk di rawat nan selalu ada. Terlepas dari sikap ketika tiba waktunya untuk berpuasa, beberapa khayalak memang telah lama menjalani puasa jauh sebelum waktunya. Hal ini di landasi bukan karena mereka terlalu taat dan bertakwa, melainkan karena nasib kehidupan mereka yang seperti demikian.

Kesenjangan sosial ini mengajarkan kita arti puasa secara lahiriah, karena bagaimana rasa lapar dan dahaga itu di anggap sebagai kebiasaan dalam menjalani kehidupan. Secara sadar kelaparan merupakan penyakit yang mematikan, pun juga menjadi sumber daripada mudahnya seseorang terkena sebuah penyakit. Kasus kematian akibat kelaparan banyak terjadi beberapa tahun terakhir di negara-negara yang rentan tentang kemiskinan, hal ini mengindikasikan bahwa kemiskinan dan kematian seseorang karena kelaparan masih menjadi momok menakutkan dalam berkehidupan.

Seperti yang ada dalam berita ini, CNN Indonesia merilis berita tentang kematian akibat kelaparan https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200712183329-255-523784/kematian-akibat-kelaparan-lebih-tinggi-dari-infeksi-corona

Kaum proletariat dapat saja di katakan bahwa hidupnya berdampingan dengan rasa lapar (puasa), hal yang sewajarnya di alami orang-orang proletariat ketika masih sanggup dan mampu menutupi segala bentuk kekurangan sebagai kebutuhan dalam bertahan hidup, akan tetapi secara universal masih banyak terdapat ciri kemiskinan yang hidupnya masih bingung menangani bagaimana cara bertahan hidup.

Dan yang lucu negara sebagai pemerintah malah melempar permasalahan ini kepada rakyat itu sendiri yang notabenenya rakyat mana mampu paham dan tahu tentang hal-hal yang menyangkut tentang kemiskinan. Terlepas daripada bentuk ketakwaan manusia kepada Tuhan-nya dengan cara berpuasa bahwa kaum proletariat telah lama menjalani puasa itu sendiri.

Menyelami kemiskinan tak akan ada habisnya, misi setiap negara dalam struktural pemerintahan adalah bagaimana dapat memberantas kemiskinan. Semboyang kesejahteraan masih sebatas utopia semata dewasa ini, karena kerentanan kemiskinan, kematian karena kelaparan masih merambah dalam beberapa negara. Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah berbanding lurus dengan angka kesejahteraan manusia di dunia ini, terutama bagi negara-negara yang rentang akan kemiskinan.

Tidak dapat kita hindari, proses laju peradaban selalu tak terbendung, manusia di tuntut bagaimana dapat beradaptasi secara mulus dan simultan tanpa mempertimbangkan kondisi serta situasi lingkungan hidup mereka. Kelaparan masih menjadi penyakit utama di dunia ini, negara sebagai pemerintah yang di anggap sebagai penengah di atas segala kepentingan tiap individu ternyata masih kurang efektif dan produktif mengatasi permasalahan dasar manusia.

Opini oleh Blkhet, 26 Maret 2023

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai