Suara yang tak lagi absurd

Terdengar teriakan, ia menjerit bebas dalam kegelapan.

Suara itu, ia marintih bahagia dalam kesesakan.

Terdengar lebih keras, jelas, laksana batu ia terpaku dalam sebuah Goa yang lagi kuatnya.

Bak palung yang paling dalam, suara itu, ia sungguh jauh terdengar di angkasa raya.

Suara itu, suara yang tak lagi absurdnya.

Ia tak cukup asing di antara batas-batas sang surya.

Di antara gunung-gunung yang tinggi indahnya, dan hutan-hutan yang lagi lebatnya.

Mereka tahu, ia mengenalnya sejak dalam kandungan.

Jauh sebelum terbenamnya matahari di langit mesir dan kemajuan Yunani, hal itu di ketahuinya.

Sampai hamparan gurun pasir sahara mendoakan dalam keselamatan.

Syair pujangga, cara begaimana merayu kekasih dunia, meminta pancaran dalam pijak-pijak yang pijar.

Bak seperti kafilah-kafilah, ia mengelilingi dunia, seraya mencari nan memancarkan cahaya ilahiah.

Suara itu, ia masih ada, di anta-berantah. Dia ingin menuju pijak-pijak diantara pijar, menunggu kafilah dan memberikannya lilin sebagai cahaya dalam relung gelisah yang hampa.

Sastra Blkhet, Pangkep 1/01/2023

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai