
Berbicara tentang pengetahuan, bagi saya sama saja kita membicarakan tentang sejarah peradaban manusia itu sendiri, karena kenyataannya dalam sejarah manapun bahwa tak ada satupun peradaban yang maju tanpa sokongan dari ilmu pengetahuan. Entah itu di pelopori oleh siapa, tapi kenyataannya bahwa pengetahuan merupakan sumber utama manusia untuk beranjak dari keterpurukan yang dominan menuju keterpurukan yang cukup stabil.
Ada banyak filsuf yang menyumbangkan gagasan serta pemikirannya mengenai ilmu pengetahuan. Tentang bagaimana manusia memperoleh suatu pengetahuan, tentang bagaimana yang di maksud pengetahuan itu, dan tentang apa saja alat serta tolak ukur mengetahui bahwa itu adalah suatu pengetahuan. Ada banyak ragam, dan tiap filsuf memiliki metode serta argumentasi tersendiri menanggapi pengetahuan, salah satu contohnya adalah peradaban barat dan timur, yang dimana para pemikirnya memiliki perbedaan dari segi persepsi dan praktisi tentang ilmu pengetahuan.
Tapi dalam tulisan ini kita tidak akan membicarakan tentang perbedaan-perbedaan para filsuf memahami atau mempraktisi bagaimana ilmu pengetahuan itu. Tapi tulisan ini bermaksud menyingkap sedikit tentang hakikat pengetahuan yang semestinya. Hal ini di dasari dengan pemikiran Adorno dan Horkheimer, salah satu pemikir Mazhab Frankfurt yang juga selaku filsuf asal Jerman.
Risalah Pengetahuan sejatinya adalah jalan dimana segala bentuk urusan manusia dapat dilakukan tanpa ada bentuk kekangan, ketakutan dan semata-mata kebebasan untuk menuju kedamaian hidup yang sejahtera. Kurang lebih seperti itulah Max Horkheimer dan Thoer Adorno mengartikan bagaimana pengetahuan itu seharusnya.
1937 merupakan periodesasi yang cukup berat di Jerman kala itu, bagaimana tidak, dominasi aliran politik fasisme yang melimpah ruah dan menundukkan kemanusiaan di atas otoritas nazisme. Manusia di belenggu oleh ketakutan yang sangat besar dengan patokan ilmu pengetahuan yang telah di tetapkan (Benar). Hal ini menjadi kondisi yang buruk kala itu di Jerman setelah prosesi PD 1.
Kesejangan, kebudayaan, serta kebebasan terenggut di atas meja kekuasaan. Kebenaran di tetapkan sebagai ideologi untuk manusia, tak kenal apa itu relevan atau bahkan berfaedah, namun hal itu rupanya bagian daripada rencana bagaimana melenggekan suatu bentuk kepentingan dalam berkuasa. 1937 dapat dikatakan sebagai fase dimana modernitas kehidupan manusia, karena hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi industri yang berkembang di peradaban Eropa kala itu.
Ilmu pengetahuan yang di dambakan para filsuf dapat menjadi alternatif membebaskan manusia dari keterkungkungan ketakutan atas ketidakmanusiawian, nyatanya menjerembab manusia itu sendiri dalam polarisasi sistem kerja yang tak manusiawi. Perkembangan teknologi industri telah menjadi bukti dasar di atas kekejaman ilmu pengetahuan. Bagaimana polarisasi sistem kerja, sampai kepada sistem polarisasi pendidikan yang di sentimentil dewasa ini dll.
Demikian kita tak menyadari, atau bahkan berbangga diri atas kemajuan teknologi sekarang, tapi di satu sisi hal ini menjadi boomerang untuk kita semua, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan itu telah di implementasikan ke koridor yang gelap dimana tak ada cahaya menerangi untuk bisa melihat bagaimana dunia yang sebenarnya.
Kita manusia kadangkala tak ingin memikirkan hal-hal fundamental semacam ini, padahal begitu pentingnya, bahkan ironisnya kita menganggap bahwa hal ini bukan urusan kita, yang penting kita punya kerjaan, dapat gaji, perut aman, selesai barang-barang. Sifat Pragmatisme telah menenggelamkan jati diri kita sebagai manusia dan mengantarkan kita kepada barbarisme baru begitulah kata Horkheimer, terlebih banyaknya limpahan produksi dan informasi yang sulit untuk di bendung dewasa ini.
Sejatinya sesuatu yang baik itu dasarnya harus selalu baik, berjalan sebagaimana mestinya yang di harapkan, bukan kemudian malah membenarkan kekeliruan. Bukan sesuatu yang main-main tentang membicarakan ilmu pengetahuan, hadirnya adalah penentu bagaimana kita umat manusia di antarkan kejalan yang damai lagi tentramnya. Bukan penuh ketakutan dan keterikatan.
Jika kita berpikir ilmu pengetahuan hari ini tak memiliki kekangan, lihatlah bagaimana pendidikan menjajah kita? bagaimana buruh di pekerjakan? dan bagaimana masyarakat di konstruktif melalui media informasi jika itu bukan dari keteledoran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak salah atas hadirnya, bahkan berkatnya di dunia dapat di pahami secara rasio dan kenyataan oleh umat manusia, akan tetapi ilmu pengetahuan dewasa ini memenjarakan kebebasan manusia dan malah melahirkan kecemasan besar atas hidup manusia di dunia.
Sekali lagi bahwa sejatinya ilmu pengetahuan adalah bentuk bagaimana manusia di gambarkan hidup dengan bebas di atas kedamaian, tanpa ada keterikatan sebagai individu dan masyarakat.
~Opini oleh Blkhet
Tinggalkan komentar