Sebuah Anasir

Sementara aku masih berupaya memahami.

Pohon itu kulihatnya tak memiliki apa-apa, tak ada ranting, tak ada daun, dan juga tak ada keindahan padanya, ku dekatinya, dan terdapat hanyalah sebuah akar yang meliputi tanah yang kotor itu.

Bak manusia yang bertelanjang, tak memiliki busana laksana permata keindahan yang selayaknya.

Ada upaya bagaimana memahaminya, bagaimana memecahkannya, dan bagaimana hal itu dapat terjadi di antara banyak hal yang menjadi Anasirnya.

Sejenak, bagaimana bisa kehidupan masih berpihak padanya? pohon itu, sungguh berada dalam kemalamangan yang paling brutal.

Tak lelahnya menjadi pelaku, peluru, saling beradu dalam ketegangan yang di buat manusia untuk kepuasan sesuatu.

Arti bagaimana keindahan itu? etika itu? demikian hal-hal yang fundamental, tak ubahnya laksana pohon yang berbuah besar lagi indahnya.

Di tempa badai, di gusur angin, di tusuk hujan, liang-keliangan, berpantasi tak ingat rumahnya dari mana asalnya.

Kicau kebimbangan, meriak dalam gelora suara pusara, cakrawala, semesta ku bingung bagaimana tatacaranya.

Siul gembira, saat itu ada luka, derita, kecewa, penyesalan menghantui dalam tubuhnya, bibir kelopak bunga, ranting, daun, buah dan segala yang ada padanya, tak memiliki guna bagaimana melindungi dirinya.

Masih tentang sebuah pohon itu, mendoakannya lebih baik dari yang terbaik, laksana manusia sejatinya Fitrahnya.

Sastra oleh MA

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai