Imajinatif dan intuisi

Tatkala imajinatif menyelimuti jiwa yang dingin lagi hampa, disisi lain tercipta pula sekat antara logika dan intuisi yang menggebu dalam ruang gelisah ke khawatiran. Dan di saat itu pula-lah aku mengambil sebatang rokok lalu membakarnya dan ku hisap dengan pengharapan, bahwa setiap hisapan ini adalah pemantik menuju kedamaian nan kebijaksanaan.

Demikian ekspetasi itu. Membuat sisi nalar tergugah akan hal-hal yang indah itu. Demikian realitanya, mengungkung segala yang berbaur indah menjadi suram berlebam. Sayup suara tepian ombak lagi nikmatnya, laksana pasir putih ku hinggapi dalam kesenangannya. Berkelinang imajinatif, tak kuasa menahan kesadaran berbagai pilu dalam pusara.

Kuseduh kesepian ini, mencari jati, menepi dalam kadungan, merenungi segala sisi-sisi yang dapat di kujangkau Indrawi, ihwal kembimbangan, perpaduan menuju kedamaian dan di tengahnya terdapat sedikit kesadaran, barangkali raga ini masih terlalu dini, mencari ihwal suci, tinggi dan lagi indah.

Merepuhlah kelopak mata, bibir merah merona, bergetar menandakan kecemasan dalam palung detik-detik senjana. Kubakar lagi rokok ini, kuhisap dengan begitu dalamnya, kunikmati tiap sisi asap yang keluar darinya. Gempulan asap ini kupandanginya sebagai entitas dari problem dan dinamika kehidupan, masih perihal intuisi yang mendamba mencari jati hakikat kebenarannya, tak banyak esensialnya tapi juga aku ingin subtansialnya.

Apakah ini? dan kemanakah pikiran ini kan berlabuh?, Apakah Di tempat sang Surya terbenam? Saya kira itu tidak lagi, karena disana terdapat banyak doa dan harapan yang di buat oleh manusia. Gumamku tak lagi terasa, laksana sungai yang tak memiliki air paduan indah, apapun dan segalanya, aku ingin merasakan cinta sebagaimana Rumi mencintai kekasih semesta, juga seperti robiahtul adwiah yang beribadah tanpa meminta balasan darinya, dan yang paling ku inginkan bahwa kapan dunia ini kan kiamat. Segeralakanlah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai