
Memulai tulisan ini, saya hendak meminjam perkataan dari sophacless, salah satu pemikir atau juga barangkali dapat dikatakan sebagai filsuf. Sophacless bilang seperti ini “Di saat kita merasa takut maka semua hal akan menjadi rumit.” Mungkin beberapa dari anda yang membaca tulisan ini berpikir, loh..hubungan dari perkataan hacless dan judul tulisan ini apa?. Terkait hubungan antara perkataan hacless dan judul tulisan ini silahkan berpikir sendiri, karena saya yakin di antara kita semua memiliki akal pikiran masing-masing. Itulah sebabnya kenapa saya selipkan sedikit perkataan dari salah satu filsuf, Toh, bukankah kepala itu di fungsikan untuk berpikir?, itupun kalau anda ingin berpikir.
Jadi, sekarang kita akan memulai bercerita tentang apa yang di Idealkan kampus hari ini, kampus kita bersama, atau kampus teman-teman, atau kampus mereka, yang di banggakan itu, yang di elok-elokkan itu, entah dari segi fasilitas yang memadai, atau suasana yang bergairah hingga merasa betah, atau juga barangkali dengan banyaknya perempuan cantik (hahaha!). Intinya setiap dari kita yang menjadi mahasiswa dalam kampus tertentu sudah pastinya selalu membicarakan tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki kampus itu sendiri.
Tapi terlepas daripada sarana dan prasarana yang kampus berikan hari ini, pernahka kita berpikir bahwa apasih yang kampus idealkan?. Saya dapat memastikan, bahwa banyak dari kita di kalangan mahasiswa tidak memikirkan persoalan ini, tentang apa yang kampus cita-citakan hari ini. Tapi bagi anda yang membaca tulisan ini, segera anda akan mengetahui hal itu. Tentang apa yang kampus idealkan hari ini. Dan Jika anda masih membaca tulisan ini, maka anda termasuk orang yang beruntung, keberuntungan karena anda akan segera tahu bahwa ternyata kampus hanya mendambakan hal-hal yang seperti ini.
Kampus atau universitas, adalah tempat yang di kenal segala displin ilmu itu ada, mulai dari hukum, sosial, politik, ekonomi, budaya, sains, tehnik hingga hal meyangkut tentang keyakinan, yakni teologi, dan masih banyak lagi. Jika kita ilustrasikan, kampus itu seperti sebuah pohon filsafat, dimana ranting-rantingnya itu adalah disiplin ilmu yang memiliki perbedaan masing-masing tapi saling berimplikasi. Jadi kampus bukan hanya tempat untuk bagaimana mengubah karakter, mendewasakan cara berpikir, apalagi pencari seorang putri, bukan, bukan hanya itu. Tapi lebih yang di pikirkan, itulah kampus.
Telah kita ketahui bersama bahwa kampus memiliki ikon masing-masing, atau cara tersendiri untuk mengikat minat sehingga seseorang berkeinginan untuk kuliah di kampus tersebut. Tapi terlepas dari hal yang membuat kita untuk kuliah di kampus tersebut, kampus juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar, mulai dari tokoh Agamawan, atau politikus dan lain-lain. Tapi Apasih yang membedakan kampus yang dulu dengan kampus yang sekarang?. Saya yakin bahwa kita hari ini yang berstatus sebagai mahasiswa selalu di bandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa doloe, Tapi untuk mengetahui perbedaan itu, kira-kira siapa mesti disalahkan? apakah karena mahasiswanya, atau sistem birokrasinya, atau malah pemerintah dan birokrasi kampus itu sendiri.
Kita tidak bisa menampikan, bahwa kampus hari ini kenyataannya memang sangatlah jauh berbeda dengan kampus tempo doloe. Tapi perbedaan yang saya maksud disini lebih kepada birokrasi dan kebebasan akademik yang kampus terapkan untuk kita semua sebagai mahasiswa. Terlepas dari kemajuan infrastruktur yang ada di setiap kampus, kampus memang harus melahirkan banyak tokoh-tokoh besar. Jadi bagaimana dengan kampus yang memiliki kebijakan untuk membatasi kemerdekaan mahasiswa? Apakah itu layak dikatakan sebagai kampus? atau layakkah kampus itu di anggap lagi sebagai tempat penggemblengan lahirnya tokoh-tokoh besar?
Saya ingin mengatakan bahwa selama kita masih berstatus mahasiswa, maka kampus masih memiliki tanggung jawab atas status kita sebagai mahasiswa, bukan apatis, atau malah mengancam melalui aturan yang bersifat diksriminatif. “Jika di antara kita ada yang memiliki dosen yang selalu mengingatkan atau membantu kita, maka dosen itu sungguh mulia dan baik. Karena tidak bisa kita pungkiri beberapa dosen di setiap kampus terkadang tidaklah memahami kondisi psikologis dari seorang mahasiswa.
“Jika anda masih membaca tulisan saya ini, berarti anda salah satu tipe manusia yang memang suka membaca“. ini intermezoo, sebelum kita lanjut.
Kampus, eksistensinya sungguh mulia di mata tuhan, karena dalam Islam itu sendiri yang termaktub dalam kitab sucinya mengatakan tentang “ilmu itu sendiri“, bahwa ada ayat tertentu yang membahas tentang ilmu pengetahuan itu, dan kampuslah sebagai tempat ilmu itu ada, jadi bukankah kampus itu sungguh mulia di mata tuhan. Tapi lagi-lagi, jika birokasi kampus apatis dengan kita sebagai mahasiswa sungguh secara tak sadar mereka mengikis kemuliaan itu.
Sekali-kali kita perlu mengkritik keberadaan kampus itu sendiri, bukan hanya mengkritik kebijakan-kebijakannya, tapi memang eksistensinya. Sadarkah kita bahwa penggangguran tertinggi di Indonesia itu asalnya dari kalangan mahasiswa (S1)?. Kira-kira ada apa?.
Saya kira tulisan ini sampai disini saja, jika anda masih membaca terimakasih, tapi prankk! Hahaha…
Idealkan kampus itu memang memiliki hara jual, harga jual yang saya maksud adalah kompentensi yang kita dapat dari kampus tersebut, dan hal itu kemudian menjadi bekal harga untuk menunjang kehidupan setelah fase kemahasiswaan, tapi apa? hari ini kampus setelah kita mendapatkan gelar sarjana, dia juga telah lepas tangan, seolah-olah memang memberikan kita beban hidup besar, di kampus kita di beri tugas yang tidak memiliki akhir, di luar kampus pun setelah wisuda kita suguhi kebingungan ingin apa.
Kebingungan tercipta karena kurangnya bekal yang di dapat untuk melewati fase hidup berikutnya, banyak orang yang merasa cemas, takut dan khawatir. Saya akui memang setelah kuliah pada akhirnya kita semua akan mencari kerja, mencari. Mencari adalah bentuk kebingungan yang hari ini kampus ciptakan, secara perlahan kita memang di cetak untuk menjadi tangan-tangan panjang dari kapitalisme.
Barangkali ini sungguh serius, yang masih membaca tulisan ini, saya ucapkan terimakasih, untuk jawaban yang anda tunggu-tunggu, itu belum ada dalam tulisan ini, terimakasih anda sudah di prank! Haha,
Opini Blkhet
Tinggalkan komentar