Nona, kau selalu begitu anggung, saat-saat mata menatap di paruh sana, laksana tenang terasa dalam jiwa raga.
Aku mana mampu untuk bercerita, sedangkan menatapmu saja begitu lama aku belum bisa.
Begitu indah untuk di lupa, namun tak ada yang lebih baik dari padanya, seisi nalar, mengulang waktu, imajinasi meronta kau selalu membayangi pikiran jiwa.
Lantas mengapa begitu sulit untuk kita berdua, sulit memadukan jiwa raga, bahagia bersama-sama, lewat cerita dan hikayat-hikayat cinta.
Tapi mengapa kau lantaran tetap menggebu dalam cakrawala, dan kenapa kau selalu indah.
Maafkanlah ketidakdewasaan ini, barangkali aku memang terlalu dini untuk dunia yang indah kini.
Saat-saat seperti ini, lamunan imajinasi tak henti puitis, bagaimanapun kaki ini harus tetap beranjak dalam pelukan kasih, sekalipun melankolis, namun begitulah sisinya.
Sastra Oleh Blkhet, Makassar 30 Sep 2022
Tinggalkan komentar