Kapitalisme akar kesengsaraan

Tak ada yang lebih mengerikan dari Kapitalisme, itu sebabnya kenapa kita mesti melawan dan menghancurkannya. ~MAX STIRNER

Hiruk-pikuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kian menjadi polemik di tengah semua kalangan masyarakat, khususnya masyarakat menengah kebawah (kurang mampu), mereka merasa sangat di rugikan akan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tersebut. Terlebih kenaikan harga BBM ini secara otomatis juga berdampak terhadap naiknya kebutuhan dasar pokok seperti sandan, papan dan Pangan. Beban masyarakat kian menjadi lebih besar setelah keputusan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ini di umumkan secara langsung oleh petinggi negara (presiden). Respon pun secara cepat di tanggapi oleh kawan-kawan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi akan penolakannya tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ini.

Pada prinsipnya setiap keputusan, langkah dan kebajikan akan menuai konsekuensi, iya ibarat hukum alam yang ketetapannya ada di luar kendali manusia. Tapi sekarang ini pemerintah memilih untuk menaikkan harga BBM, dimana disisi lain pemulihan ekonomi akibat pasca pandemi covid-19 belum memulih secara baik sesuai apa yang di inginkan bersama-sama. Tentu hal ini akan menjadi beban dua kalipat bagi masyarakat secara khusus dan juga pemerintah. Pemerintah disibukkan untuk mencari solusi terbaik dalam kondisi ini, tapi pada kenyataannya solusi ini tetap berimbas karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Perlahan skeptisisme pun muncul di tengah-tengah masyarakat, ketidakpercayaan mengikis banyak tindakan dan keputusan yang di hadirkan, pihak-pihak tertentu tak lagi saling memiliki rasa percaya, baik itu mahasiswa ke pemerintah, masyarakat ke pemerintah dan pemerintah yang di babat habis akan permasalahan ini.

Isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal baru terjadi di Indonesia ini, ternyata kerapkali pemerintah Indonesia menaikkan harga naik turunnya BBM, berawal dari masa kepemimpinan seokarno pada 1966, krisis moneter terjadi di Indonesia akibat pasca perang kemerdekaan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah sesuatu yang terjadi tanpa memiliki alasan, dan salah satu alasannya adalah naiknya harga minyak mentah dunia yang mencapai harga 100.000$ lebih per barel, dan pasok minyak dunia yang kian menipis keberadaannya. Dengan itulah, pemerintah lagi-lagi di lema untuk membuat keputusan demi menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) itu tetap ada dan di nikmati oleh khalayak masyarakat, meskipun kenyataannya itu sangatlah memberatkan.

Lalu pertanyaannya siapakah yang di untungkan dengan naiknya harga BBM ini? Yah, lagi-lagi kapitalisme lah yang di untungkan, monopoli pasar, dan taktik pasar global memang menjadi visi utama dari kapitalisme. Toh kenapa judulnya adalah “Kapitalisme akar kesesangsaraan” karena dengan tenang dia mempolarisasi kebutuhan-kebutuhan banyak manusia dan salah satunya ialah BBM. Kenaikan BBM bukan hanya di Indonesia saja, hampir semua negara di dunia ini merasa terbebani akan pasokan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) ini, pun masalah kenaikan harga minyak mentah tak terlepas dari peristiwa perang Ukraina dan Rusia yang sampai hari ini masih memanas, sebuah peluang bagi kapitalisme akan peristiwa itu, yang dampaknya kian merambah kebanyak negara.

Kapitalisme memang liang busuk kesesangsaraan, bagaimana dia memproduksi sesuatu, dan disisi lain saat permintaan tinggi dari konsumen otomatis harga dan juga produksi akan berpengaruh tinggi, salah satu contohnya adalah BBM ini, secara global permintaan akan minyak mentah begitu tinggi, tapi ketersediaan dari produksi kilang minyak malah mematok harga tinggi dengan ketersediaan yang terbatas. Pemerintah dan masyarakat tak lebih dari sekedar konsumen dari produk Kapitalis, bagaimana para kapitalis membuat rasa candu, ketergantungan akan sesuatu yang di produksinya. Dan tak ada pilihan untuk memperlancar sistem kehidupan mau tak mau kita telah terbawa alur oleh sistem yang di buat oleh Kapitalisme.

Simon tormey dalam buku anti kapitalisme mengatakan ” Paradaban manusia yang sangat maju kini, itu sesuatu yang tak kehendaki oleh dunia, melainkan laju peradaban hari ini di inginkan oleh beberapa orang”, dari pernyataan Simon tormey kita dapat saja katakan, bahwa apa yang kita sebut maju dan cinggih hari ini itu tak terlepas dari keinginan yang sudah di polarisasi oleh elit Global, kebutuhan-kebutuhan mendasar pun kian seolah-olah telah di sentimentil oleh Kapitalisme itu sendiri. Pada akhirnya kesesangsaraan akan terlihat jelas, dia hadir di permukaan sebagai implementasi keresahan dan kekecewaan, protes dimana-mana, kriminalitas merejale, kesenjangan sosial sudah tentu adanya. Begitulah Kapitalisme mempermainkan banyak manusia.

By. Blkhet

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai